- 09/25 - 10/02 (1)
- 05/30 - 06/06 (5)
- 05/23 - 05/30 (2)
- 04/25 - 05/02 (9)
- 04/18 - 04/25 (3)
- 11/15 - 11/22 (2)
Blog Archive
Search This Blog
adsense
cofee tubruk
- coffee tubruk (5)
LIFE STYLE
hose who pride themselves on their honesty should also concern themselves with this principle: The effectiveness of honesty depends on a person's willingness to face the truth, which may conflict with this person's desires and provoke denial.
In such a case, how can one promote this willingness, despite this conflict? The answer to this question could prove useful to anyone who seeks to be effectively honest with people in denial. Ultimately, it could benefit these people, whose denial is contrary to their best interest. I go on the assumption that truth, or the conformity of thought to reality, is the sine qua non of vital efficacy. Health, pleasure, successful careers, and harmonious relationships require that we know the needs and capabilities of our nature, and the workings of the world. The absence of this knowledge leads to accidents, illness, suffering, failure, and death. Therefore, the first object of our desires should be truth, or the knowledge of ourselves and the world around us. Why then are people often unwilling to face it?
I believe there are two reasons for this unwillingness. Firstly, the desire to know the truth, which originates in the desire to live happily, spontaneously degenerates into the desire to be right, to avoid the insecurity and shame associated with error and ignorance, and also to avoid the effort to learn. Thus fear, pride, and laziness are obstacles to the pursuit of truth and happiness. People are unlikely to admit they are wrong when they are, unless they possess courage and humility. Whoever takes their good to heart should help them develop these virtues.
Secondly, the truth may be known from experience about a happy way of life. The desire to know the truth then turns into the desire to see the truth last. Mental inertia becomes the law, proportional to the force of attraction exerted on the mind by this happy way of life. Any upheaval that breaks the status quo is denied: "I cannot believe it; this cannot be happening." Reality is deemed unreal because it no longer tallies with the desired truth. Denial can therefore be regarded as a deviant process that conforms facts to ideas, instead of the opposite. Reason is overthrown and emotions reign, as one strives to prove reality wrong to spare oneself the loss of a happy way of life and the pursuit of another, this loss and this pursuit being associated with grief, strain, and doubt, or even despair.
To help a person acknowledge an undesired truth about a radical change in reality, one has to couple honesty with wisdom to heighten this person's awareness of the human capacity for adaptation. This capacity is best illustrated by the example of people who have suffered a terrible misfortune and progressively discovered a new outlook and a new happiness, more enlightened and satisfying than the old ones. In addition, one has to stimulate the will of this person, who is left with a formidable challenge: to start her or his life over. Lastly, this heightened awareness and this stimulated will may weaken at times, calling for reinforcement. All in all, against the unwillingness to face the truth, the effectiveness of honesty is always difficult and uncertain.
Teman-teman pejuang ikhlas, berikut ini saya kutipkan beberapa paragraf dari buku terbaru mas Nunu, “The Science & Miracle of Zona Ikhlas” semoga bermanfaat
Suatu malam seseorang memesan taksi agar datang menjemputnya besok pagi, lalu ia meletakkan gagang telepon sambil merasa yakin taksi yang dipesannya akan datang. Ia pun tertidur lelap dengan penuh keyakinan bahawa saat ia bangun taksi pesanannya pasti datang. Pernahkan anda bertanya mengapa kita merasa begitu yakin permintaan kita akan dipenuhi oleh “perusahaan taksi”?? namun tidak demikian kualitas perasaan kta saat meminta kepada yang Maha Mengabulkan doa??
Teman-teman para pejuang ikhlas, kadangkala ini merupakan hal sederhana yang membuktikan kurang ikhlasnya kita dan kurang yakinnya kita dalam berdoa kepada Tuhan.
Semoga bermanfaat
Yang baik itu semuanya dari Allah dan yang buruk itu dari setan dan hawa nafsu manusia.
***********************************************************
Terima kasih untuk anda semua yang telah bergabung dengan group ini
Semoga kita semua di karuniakan kebaikan dan keikhlasan.
Pengurus mengharapkan kritik dan saran dari anda semua untuk kebaikan dan kelangsungan group ini.
Kami juga menerima sharing dari rekan2 tentang keikhlasan dan hal-hal positif lainnya dan juga mungkin kalau ada hal yang ingin di diskusikan silahkan kirimkan pesan anda ke admin atau membalas pesan ini
Terima kasih
Salam ikhlas
Konsep berpikir positif yang selama ini kita pahami sesungguhnya mengabaikan pentingnya memperhatikan perasaan pada saat kita berpikir. Padahal kita semua sepakat bahwa pikiran kita (12%) hanyalah efek dari perasaan kita (88%). Maka apa pun dan bagaimana pun upaya kita untuk membentuk pikiran agar positif, kalau perasaan kita masih negatif, pasti pikiran kita kembali negatif. Oleh karena itu melatih pikiran postif yang rasanya enak merupakan keharusan bagi kita, apabila kita menginginkan sesuatu itu benar-benar terjadi.
Oprah Winfrey dalam buku Quantum Ikhlas yang ditulis Erbe Sentanu (2007) mengatakan, “Manusia dibimbing oleh kekuatan yang lebih tinggi yang lebih berupa perasaan ketimbang pikiran. Dan ketika kita memahami kekuatan perasaan itu, kita tahu pasti bahwa kekuatan itu datang dari Tuhan.”
Manusia sangat beruntung karena diberikan instrumen navigasi luar biasa oleh Tuhan, berupa perasaan di hatinya.
Perasaan atau emosi ini merupakan alat utama untuk mengukur, seberapa jauh atau dekatnya kita dari tujuan kita atau sumber “aliran berkah” Sang Pencipta, yaitu ketika perasaan itu positif atau ikhlas. Sebaliknya, ketika perasaan kita negatif atau nafsu, kita relatif jauh dari “pintu berkah” untuk mencapai tujuan kita.
Perasaan positif menunjukkan jalur energi ilahi yang terbuka, dan perasaan negatif menunjukkan jalur energi ilahi yang tertutup. Melalui instrumen navigasi ini, kita dapat mengetahui bahwa di dalam diri kita terdapat dua zona, yaitu zona nafsu dan zona ikhlas.
Zona nafsu adalah wilayah hati yang dipenuhi dengan keinginan namun terasa menyesakkan dada. Zona ini diselimuti oleh energi rendah (lo-energy) karena yang ada di dalamnya adalah perasaan negatif: cemas, takut, keluh kesah, dan amarah. Sedangkan zona ikhlas adalah zona yang bebas hambatan, terasa lapang di hati.
Energi yang menyelimuti zona ikhlas adalah perasaan-perasaan positif yang berenergi tinggi (hi-energy) seperti rasa syukur, sabar, tenang, damai, bahagia.
Perasaan adalah bahan baku inti dari pikiran kita, dan melalui perasaan, kita mengundang apa yang kita pikirkan. Maka operasikan pikiran itu dengan sengaja, yaitu memilih pikiran yang positif sambil mem-perhatikan betul bagaimana rasanya pikiran-pikiran itu, dan upayakan agar semua pikiran itu terasa enak dan ikhlas.
Apabila terasa tidak enak, artinya kita masih jauh dari yang kita inginkan. Tetapi kalau perasaan di hati sudah enak dan semakin enak, pertanda kita sudah semakin dekat dengan yang kita inginkan.
Sekarang saatnya bagi kita untuk merevisi konsep kita mengenai “perubahan “paradigma” yang mendewakan/men-Tuhan-kan pikiran (positive thinking), yang menyebutkan “Anda akan mendapatkan apa yang paling sering Anda pikirkan” dengan paradigma hati (positive feeling): “kita akan mendapatkan apa yang paling sering kita rasakan (sewaktu kita memikirkannya)”.










