tag of the HTML coffee break: f33LL GOOD

coffee break

relaxed for a moment with a cup of coffee

cofee tubruk

LIFE STYLE

11/16/2009

f33LL GOOD

Posted by Healthy care

Konsep berpikir positif yang selama ini kita pahami sesungguhnya mengabaikan pentingnya memperhatikan perasaan pada saat kita berpikir. Padahal kita semua sepakat bahwa pikiran kita (12%) hanyalah efek dari perasaan kita (88%). Maka apa pun dan bagaimana pun upaya kita untuk membentuk pikiran agar positif, kalau perasaan kita masih negatif, pasti pikiran kita kembali negatif. Oleh karena itu melatih pikiran postif yang rasanya enak merupakan keharusan bagi kita, apabila kita menginginkan sesuatu itu benar-benar terjadi.



Oprah Winfrey dalam buku Quantum Ikhlas yang ditulis Erbe Sentanu (2007) mengatakan, “Manusia dibimbing oleh kekuatan yang lebih tinggi yang lebih berupa perasaan ketimbang pikiran. Dan ketika kita memahami kekuatan perasaan itu, kita tahu pasti bahwa kekuatan itu datang dari Tuhan.”

Manusia sangat beruntung karena diberikan instrumen navigasi luar biasa oleh Tuhan, berupa perasaan di hatinya.


Perasaan atau emosi ini merupakan alat utama untuk mengukur, seberapa jauh atau dekatnya kita dari tujuan kita atau sumber “aliran berkah” Sang Pencipta, yaitu ketika perasaan itu positif atau ikhlas. Sebaliknya, ketika perasaan kita negatif atau nafsu, kita relatif jauh dari “pintu berkah” untuk mencapai tujuan kita.

Perasaan positif menunjukkan jalur energi ilahi yang terbuka, dan perasaan negatif menunjukkan jalur energi ilahi yang tertutup. Melalui instrumen navigasi ini, kita dapat mengetahui bahwa di dalam diri kita terdapat dua zona, yaitu zona nafsu dan zona ikhlas.



Zona nafsu adalah wilayah hati yang dipenuhi dengan keinginan namun terasa menyesakkan dada. Zona ini diselimuti oleh energi rendah (lo-energy) karena yang ada di dalamnya adalah perasaan negatif: cemas, takut, keluh kesah, dan amarah. Sedangkan zona ikhlas adalah zona yang bebas hambatan, terasa lapang di hati.



Energi yang menyelimuti zona ikhlas adalah perasaan-perasaan positif yang berenergi tinggi (hi-energy) seperti rasa syukur, sabar, tenang, damai, bahagia.

Perasaan adalah bahan baku inti dari pikiran kita, dan melalui perasaan, kita mengundang apa yang kita pikirkan. Maka operasikan pikiran itu dengan sengaja, yaitu memilih pikiran yang positif sambil mem-perhatikan betul bagaimana rasanya pikiran-pikiran itu, dan upayakan agar semua pikiran itu terasa enak dan ikhlas.



Apabila terasa tidak enak, artinya kita masih jauh dari yang kita inginkan. Tetapi kalau perasaan di hati sudah enak dan semakin enak, pertanda kita sudah semakin dekat dengan yang kita inginkan.



Sekarang saatnya bagi kita untuk merevisi konsep kita mengenai “perubahan “paradigma” yang mendewakan/men-Tuhan-kan pikiran (positive thinking), yang menyebutkan “Anda akan mendapatkan apa yang paling sering Anda pikirkan” dengan paradigma hati (positive feeling): “kita akan mendapatkan apa yang paling sering kita rasakan (sewaktu kita memikirkannya)”.

1 comments:

CAKRUK said...

wakkakakakkaaaaaaaaaaaa

Post a Comment